Pemko Batam Rancang Batam 20 Tahun Kedepan

BATAM – Pemerintah Kota (Pemko) Batam musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Batam tahun 2005-2025, Kamis-Jum’at (8-9/12) di Hotel Vista. Kegiatan ini sebagai sarana penyerapan aspirasi dan pikiran dari seluruh stakeholder, baik Pemko Batam maupun seluruh pelaku pembangunan daerah sebagai wujud nyata keterlibatan aktif seluruh masyarakat Batam.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Batan, Wan Darussalam mengatakan kegiatan ini sangat penting untuk memberikan saran dan masukan dalam penyusunan RPJPD Kota Batam tahun 2005-2025 yang merupakan landasan dan arah jangka panjang penyelenggaraan pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya. “Juga sebagai acuan penyusunan Rencapa Pembangunan Jangka Menengah Kota Batam,” katanya.

Maksud dan tujuan penyelenggaraan Musrenbang RPJPD ini adalah untuk membahas dan menyepakati rancangan RPJPD yang mencakup pembahasan rancangan awal RPJPD Kota Batam 2005-2025 terutama visi, misi serta arah pembangunan Kota Batam untuk 20 tahun kedepan; mendapat masukan dan tanggapan dari  narasumber, pengambil keputusan dan masyarakat sebagai masukan utama finansial draft RPJPD Kota Batam tahun 2005-2025; mengembangkan dan memperkuat mekanisme partisipasi masyarakat serta membangun kesepahaman dan komitmen pemerintah daerah, pelaku usaha dan masyarakat dalam merumuskan RPJPD Kota BAtam 2005-2025. “MUsrenbang hari pertama menjaring aspirasi dari berbagai pihak sementara di hari kedua difokuskan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemko Batam,” jelas Wan.

Walikota Batam, Ahmad Dahlan mengatakan dalam penyusunan RPJPD Kota Batam 2005-2025 iniperlu estimasi dan pemikiran tentang bagaimana Batam kesepan. “Akan dibuat seperti apa Batam, sekakarng lah putuskan,” katanya.

Kepada para peserta, Dahlan menyampaikan beberapa masalah strategis di Kota Batam. Pertama, masalah pertambahan penduduk dan tingginya tingkat urbanisasi ke Batam. “Pertambahan penduduk di Batam mencapai 8,6 persen. Melalui musrenbang ini diharapkan ada rencana kebijakan strategis untuk kendalikan jumlah penduduk,” katanya.

Kedua, Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Asia Pasifik merupakan sasaran pengembangan ekonomi Eropa. Batam harus mempersiapkan diri untuk menyambut peluang ekonomi ini, apalagi Batam dengan letak yang strategis memungkinkan langsung berinteraksi dengan dunia internasional.

Ketiga, fungsi Batam sebagai daerah transshipment atau alih kapal belum tergarap dengan baik. Keempat, masalah keterbatasan lahan dan kelima infrastruktur dan transportasi harus dibenahi untuk mencegah kemacetan yang parah pada 2025 mendatang.

Di bidang pariwisata, Dahlan berharap Batam bukan hanya menjadi daerah kunjungan wisata melainkan menjadi pintu gerbang kunjungan wisata di pulau Sumatera. “Daerah-daerah di Sumatera mulai berbenah dalam kepariwisataan. Harapannya, para pelancong asing yang akan berkunjung ke wilayah Sumatera melalui Batam,” imbuh Dahlan.

Mantan Humas Otorita Batam (OB) ini juga akan menggesa pencabutan status quo Rempang dan Galang. Kawasan ini direncanakan untuk industri ringan seperti resort, perumahan dan lainnya yang tidak berakibat besar pada lingkungan. “Dengan dibukanya Relang, populasi masyarakat tidak berpusat di Batam, ekonomi pun lebih hidup di kawasan Hinterland tersebut,” jelas Dahlan.

Leave a Reply

Galeri Foto

Log in -